Pas gw lagi jalan pulang menuju HDB Toa Payoh gw, tiba2 dari arah timur berjalanlah makluk kecil-item-idup-alias-kecoak ini menuju ke titik yang sama. Kayak di perempatan jalan, hampir bertumburanlah kami di tengah2. Of course, gw gak mau ngalah, homo sapiens kan lebih terhormat, doi yang harus ngalah dongg!
Tapi susah juga kalo komunikasi gak nyambung, pake bahasa isyarat juga percuma, karena peradaban kita emang beda. Kita sama2 berhenti sejenak, menahan nafas, mencoba membaca gerakan lawan. Ya udah gw coba banting setir ke samping kiri, ehhhh dia ikut2an ke arah yang sama. Berhenti lagi 1 detik, kali ini gw coba pisah jalur ke kanan karena pikir gw dia maunya ke kiri. Ueetttt, doi ikut jugaaa, idihhh jangan2 kecoak jantannn.
Setelah bengong sesaat, akhirnya gerakan lalu lintas kembali harmonis. Doi melanjutkan perjalanan ke barat, gw diam sejenak lalu melesat ke arah utara setelah doi lewat alias lurus terus. Hmm homo sapiens terpaksa ngalah. Gak pa2, kata Alkitab kasih itu sabar. Maklumlah, gua gak yakin bangsa doi punya pegangan buku suci.
Entah kenapa tadi kalem2 aja, biasanya kalo ketemu kaum doi, otomatis darah mendidih, pengennya gw kejer dan injak sampai gepeng, sampai semua cairan itemnya keluar ighhhh. Hmm beruntung juga doi, ketemunya di jalan, jadi gak mood ahh, beresin all the mess, makacihh.
BACKGROUND biar ngerti lebih dalam tentang gw
Entah kenapa, hidupku cukup dipenuhi oleh isu kecoak. Binatang item kecil nan hidup ini sepertinya setia menongolkan dirinya dalam beberapa fase kehidupanku. Waktu kecil, semasa hidupku masih di Jakarta, di rumah Papi Mami, dia sudah ada, berjalan atau beterbangan di berbagai sudut rumah. Aku otomatis berteriak ketakutan, menjerit2 mencari pertolongan, was2 kalau mereka hinggap di rambutku, atau mencolek2 kulitku, yakksss.
Tapi aku pun mengalami metamorfosis. Tak terduga tapi nyata. Mungkin saking lelahnya berlari menghindar, rasa murka pun timbul. Kan hidup tak bisa bergantung 100% pada bantuan keluarga plus pembantu. Keberanian untuk mulai counter balik pun mulai menyeruak. Ini saatnya, kapan lagi, now or never.
Dari si penakut kecoak pun berubahlah aku menjadi pengejar dan pembunuh kecoak hahaha. Sisi lain Natalie yang kejam mulai muncul. Ternyata teori Dr Jakyll and Mr Hyde itu sah sah saja. Buktinya aku walaupun bertujuan lebih mulia, membuat kehidupan umat manusia khususnya sekitar lebih nyaman, bebas dari gangguan makhluk satu ini. Dengan senjata sandal jepit atau sepatu kalo kepepet, sudah cukup banyak korban yang bergelimpangan hingga sekarang. Belum terdeteksi oleh catatan statistik tepatnya berapa, tapi yang pasti tak sampai mengganggu keseimbangan ekosistem alam. Tempat matinya korban pun beragam, dari engsel pintu, di bawah meja, samping tempat tidur, dll, dsb, dkk.
Resmilah aku bergabung dalam klub pembasmi kecoak, rasanya sudah senior member pula. Terbukti kini aku sudah bisa berburu mereka secara mandiri. Sudah menolong beberapa orang yang hampir atau sudah menjadi korban pula (boleh baca post sebelumnya yang ada kata2 most favorite post di judulnya). Bangga sekaligus sedih karena kok bukan pemburu buaya atau ular yang kelasnya jauh lebih keren. Tapi senang karena mampu bertahan dalam keseharian hidup, bahkan membuatnya lebih baik. Nahh, mungkin pada akhirnya, itulah yang terpenting
Tertanda,
pembunuh kecoak dari Jl. Semeru, Jakarta,
yang kini tinggal dan masih terdampar di pulau Singapura.
Monday, July 07, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment